Bothekan

KAYA KROKOT URIP ING GALENG

Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti seperti krokot hidup di pematang.

Krokot adalah sejenis rumput yang dianggap tidak bernilai ekonomis. Dalam pertanian orang Jawa jenis tanaman ini sama seperti gulma lain. Dalam jajaran tanaman boleh dikatakan ia tidak memiliki guna dan kelas. Galeng, galengan, atau pematang adalah sebidang tanah yang membujur dengan lebar hanya sejengkal. Pematang difungsikan hanya untuk meniti tapak kaki dari dan menuju ke sawah atau tegalan.

Jika krokot digambarkan hidup di galeng, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana kira-kira kelangsungan hidupnya. Jenis rumput yang tidak memiliki kelas dan guna ini akan selalu terinjak orang jika hidup di galeng atau galengan. Dengan demikian hidupnya sengsara. Sudah jenis rumputnya tidak berkelas dan tidak berguna, masih sengsara pula.

Pepatah ini hanya ingin menggambarkan tentang penderitaan seseorang yang sudah tidak diorangkan oleh orang lain (masyarakat), ditambah kehidupan ekonominya sangat berkekurangan.

a sartono