|
Bothekan
SEKTI TANPA AJI
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti sakti tanpa aji atau andalan
semacam jimat atau pusaka.
Dalam masyarakat Jawa atau
Nusantara pada umumnya dikenal apa yang disebut sebagai jimat,
aji-aji, pusaka, mantra atau semacamnya yang semuanya dikenal
sebagai memberi kekuatan atau daya lebih bagi yang memilikinya. Hal
demikian sangat populer di dunia pewayangan, ketoprak, atau di
berbagai khasanah kebudayaan lokal di Indonesia. Tidak mengherankan
jika kemudian dikenal ada Aji Panglimunan yang menurut berbagai
cerita dapat digunakan untuk menghilang. Aji Pengasihan untuk
membuat orang lain jatuh cinta. Aji Jaran Goyang untuk membuat lawan
jenis tergila-gila, dan sebagainya. Orang-orang yang memiliki
hal-hal demikian itu sering disebut sebagai orang sakti karena
memiliki kekuatan lebih dibanding orang lain pada umumnya.
Sekti tanpa aji mungkin
dianggap sebagai sesuatu yang mustahil atau muskil. Sebab secara
umum manusia pada hakikatnya memang sama. Jadi tidak mungkin bisa
membuat dirinya hilang dari pandangan jika tanpa dibantu
kekuatan-kekuatan lain.
Akan tetapi pepatah ini
sebenarnya ingin menyatakan bahwa ada banyak orang yang selalu
selamat, aman, dan tidak mendapatkan gangguan yang berarti. Artinya,
orang tersebut dihormati orang lain, orang lain tidak mau atau tidak
tega untuk menyakiti atau merugikannya. Pendeknya, orang tersebut
selalu terhindarkan dari hal-hal yang membahayakan atau merugikannya.
Hal demikian dapat terjadi karena orang tersebut selalu berperilaku
baik, rendah hati, jujur, adil, lemah lembut, dan bijaksana. Dengan
perilaku semacam itu orang lain menjadi enggan untuk mengusiknya.
Dia tidak perlu unjuk kekuatan apa pun karena hal demikian dirasa
memang tidak perlu. Ia sudah “sakti” karena orang lain tidak pernah
mau mengusiknya. Orang lain justru mengasihi dan menghormatinya.
a sartono |