|
Bothekan
SUGIH TANPA BANDHA
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti kaya tanpa harta. Pepatah ini
sepertinya berisi pesan yang tidak begitu mudah diterima begitu saja
oleh akal manusia. Bagaimana mungkin ada orang kaya namun tidak
memiliki harta. Padahal dalam pengertian umum orang yang tidak
memiliki harta disebut sebagai orang miskin.
Sebenarnya pepatah ini ingin
menggambarkan tentang keadaan seseorang yang secara tampak mata
kelihatan memang tidak memiliki harta, namun dalam kehidupannya ia
selalu berkecukupan. Tentu saja hal ini juga kelihatan aneh dan
bahkan mustahil.
Akan tetapi dalam masyarakat
Jawa dikenal adanya orang-orang yang hidup bersahaja saja namun
orang tersebut selalu mendapat pertolongan atau dukungan dari orang
atau masyarakat di sekitarnya. Ketika orang tersebut tidak punya
uang, secara tiba-tiba ada yang memberinya. Ketika ia akan
melaksanakan hajatan tiba-tiba orang-orang di sekitarnya tanpa
disuruh langsung membantunya tanpa pamrih. Pendeknya, ia merasa
tidak pernah kekurangan sekalipun secara tampak mata ia adalah orang
yang tidak memiliki apa-apa.
Sugih tanpa bandha ini
umumnya merupakan buah dari tindakannya di masa lalu dimana pada
masa lalu ia selalu suka membantu orang dengan tanpa pamrih juga.
Akibatnya ia dicintai banyak orang. Ia memiliki kenalan atau sahabat
dalam arti yang sesungguhnya. Bukan yang merongrong dan merugikannya,
namun yang siap sedia setiap saat membantunya.
Selalu berkecukupan tanpa
harus menimbun harta, tabungan, deposito, perhiasan, ternah, dan
sebagainya inilah yang disebut sebagai sugih tanpa banda. Umumnya
orang yang disebut sebagai sugih tanpa banda adalah orang yang
memiliki banyak sahabat, kenalan, atau saudara yang selalu dengan
ikhlas membantunya di saat orang yang bersangkutan mengalami
kekurangan atau kerepotan.
Bisa juga terjadi orang
tersebut menjadi sugih tanpa banda karena jasa orang tua atau nenek
moyangnya di masa lalu yang begitu dermawan membantu orang lain
sehingga orang-orang tersebut atau keturunan orang-orang tersebut
ganti membantu anak dari sang dermawan.
a sartono |