|
Bothekan
SELAGINE PIRING WAE BENTHIK APA MANEH MANUNGSA
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti sedangkan piring saja beradu
apalagi manusia. Piring ketika disusun dalam rak piring umumnya
saling menyentuh atau beradu antara yang satu dengan yang lainnya.
Entah beradu ketika dicuci, ditumpuk, atau ketika disusun ke dalam
rak. Hal demikian dianggap sebagai sebuah kewajaran.\
Manusia yang berinteraksi
dengan manusia lain umumnya juga sering berselisih, beda pendapat
dan pandangan, beda kebiasaan, dan seterusnya. Hal-hal demikian
dapat mempengaruhi manusia tersebut untuk berselisih, bertengkar,
berkelahi, saling membenci, dan sebagainya. Hal demikian dianggap
sebagai kewajaran dalam hidup manusia.
Pepatah Jawa tersebut
sebenarnya ingin menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia itu peka
akan pertentangan, perbedaan, dan sejenisnya yang sangat mungkin
berujung atau berakhir pada konflik. Untuk itu pepatah tersebut
secara langsung ataupun tidak ingin mengajarkan agar manusia selalu
berhati-hati dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Berhati-hati
artinya menjaga hati, tutur kata, dan tindakannya agar tidak
menimbulkan perselisihan atau permusuhan.
Pepatah ini juga menyarankan
agar manusia memiliki hati atau perasaan untuk mudah dan murah dalam
memaafkan orang lain karena orang atau manusia memang sangat mudah
berperilaku atau bertindak tidak benar.
a sartono |