|
Bothekan
DUDU SANAK DUDU KADANG YEN MATI MELU KELANGAN
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti bukan famili bukan saudara kalau
meninggal ikut merasa kehilangan.
Rasanya memang aneh,
bagaimana mungkin bukan famili bukan saudara tetapi kalau orang
tersebut meninggal kita akan merasakan ikut kehilangan. Secara
logika orang yang tidak mempunyai pertautan darah dengan kita memang
bukan saudara atau famili kita. Jadi jika orang yang bersangkutan
meninggal secara logika kita tidak perlu merasa kehilangan.
Akan tetapi dalam hubungan
antarmanusia kedekatan hubungan antara orang per orang seringkali
tidak ditentukan oleh hubungan atau pertalian darahnya. Kedekatan
hubungan itu mungkin karena pertemanan, satu hobi, satu profesi,
hubungan ketetanggaan yang dekat, dan sebagainya. Hubungan atau
relasi-relasi semacam ini dapat membuat mereka merasa senasib atau
cocok antara yang satu dengan yang lain. Perasaan semacam ini dapat
membuat hubungan antarorang menjadi demikian dekat. Hubungan
ketetanggaan juga dapat berakibat demikian.
Ketika terjadi musibah gempa
27 Mei 2006 di Jogja dan Jateng, perasaan dudu sanak dudu kadang yen
mati melu kelangan ini benar-benar menunjukkan kenampakannya secara
nyata. Banyak orang turun langsung ke lapangan membantu korban gempa.
Mereka membantu tanpa pamrih. Apa saja yang bisa mereka lakukan
mereka lakukan demi menolong korban gempa. Tetangga bahkan orang
jauh berdatangan untuk saling membantu, saling menguatkan, dan
saling memberikan penghiburan serta harapan.
Banyak dari korban gempa
tersebut tidak ada pertalian darah bahkan juga bukan tetangga kita,
namun ketika mereka menghadapi bencana seperti itu hati kita tidak
akan tega terhadap realitas itu. Ketika mereka meninggal, kita juga
merasa kehilangan. Sungguh-sungguh merasa kehilangan. Inilah contoh
dari pepatah dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan. Contoh
lain dari pepatah ini dapat kita amati sendiri di lingkungan hidup
kita masing-masing.
a sartono |