Bothekan

MAJU TATU MUNDUR AJUR

Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti maju luka mundur hancur. Pepatah ini menggambarkan keadaan atau situasi yang serba tidak menguntungkan. Umumnya hal ini digunakan untuk menggambarkan situasi yang dialami orang atau sekelompok orang dalam menghadapi masalah yang serba sulit. Penundaan atau penghindaran masalah yang dihadapi akan membawa kerugian, meneruskan mengatasi masalah juga tetap akan membawa kerugian.

Contoh dari peristiwa atau situasi semacam itu bisa dilihat dalam dunia peperangan. Misalnya ada satu pasukan yang terkepung musuh. Pasukan yang terkepung ini tidak mungkin maju terus dan melibas lawannya. Untuk mundur pun tidak mungkin pula karena kondisinya memang benar-benar terkepung dan tidak bisa keluar dari ancaman bahaya. Jadi jika ia tetap bergerak maju ia akan hancur, mundur pun hancur pula.

Contoh lain lagi misalnya ada orang menyeberang sungai. Sebelum menyeberang ia telah menyingsingkan celana panjangnya. Akan tetapi ketika tiba di tengah sungai celana orang tersebut tetap basah terkena air. Jika ia meneruskan menyeberangi sungai celananya akan bertambah basah. Jika ia memundurkan langkahnya pun celananya juga akan tetap bertambah basah.

Barangkali dalam bahasa Indonesia pepatah ini sepadan artinya dengan maju kena mundur kena.

sartono