|
Bothekan
MANGASAH MINGISING BUDI, MASUH MALANING BUMI
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti mengasah ketajaman budi (akal
budi), mencuci keburukan (malapetaka) bumi.
Akal budi manusia tidak akan
pernah menjadi tajam jika tidak diasah. Pengasahan akal budi ini
pada umumnya dilakukan dengan bersekolah, kursus, berguru, diskusi,
membaca buku, menyerap informasi dari berbagai sumber, mengamati,
dan sebagainya. Jika manusia tidak bisa melakukan hal-hal demikian,
dapat diduga bahwa akal budi manusia tidak akan mengalami penajaman
yang berarti. Pendeknya, kepekaan dan kecerdasan manusia tidak akan
muncul begitu saja. Oleh karena itu perlu diasah.
Orang atau manusia yang
memiliki akal budi yang tajam diharapkan mampu memberikan andil
dengan ”mencuci” segala hal yang buruk yang terjadi di dunia. Paling
tidak ia bisa mencuci hatinya sendiri agar menjadi bersih. Dengan
demikian, ia juga bisa membersihkan lingkungan di sekitarnya.
Pepatah tersebut sebenarnya
memberikan saran agar orang gemar belajar dan sekaligus gemar
berbuat baik, ikut memberikan kebenaran dan pertolongan bagi orang
lain yang kesusahan atau tidak mendapatkan keadilan. Masuh malaning
bumi juga dapat diartikan sangat luas. Apakah hal itu menyangkut
penegakan hukum, perbuatan mulia, dan seterusnya.
sartono |