|
Bothekan
SATRU MUNGGUH ING CANGKLAKAN
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti musuh berada atau duduk di
ketiak. Pepatah ini menggambarkan keberadaan musuh yang berada
sangat dekat dengan diri seseorang namun orang tersebut tidak
merasakannya. Ketiak adalah bagian tubuh seseorang. Ketiak sangat
dekat dengan organ paru-paru, jantung, hati, dan usus. Akan tetapi
orang sering tidak merasakan kedekatan ketiak dan organ-organ
penting tersebut. Ketiak sendiri merupakan sudut lipatan ketubuhan
seseorang. Satru yang berada di dalam ketiak atau katakanlah bau,
panu, daki, debu, dan sebagainya yang berada di ketiak sering tidak
terasakan atau terdeteksi.
Pepatah tersebut sebenarnya
ingin menyatakan bahwa orang yang sangat dekat dengan diri seseorang
kadang justru menjadi musuh yang berbahaya, yang tidak terasakan
oleh orang yang bersangkutan. Pada masa lalu hal tersebut sering
digunakan untuk menggambarkan anak gadis. Anak gadis jika tidak
mampun menjaga diri dianggap sebagai satru mungguh ing cangklakan
oleh orang tuanya. Hal itu terjadi karena seorang gadis memang
rentan menimbulkan aib bagi keluarga, terutama bagi keluarga
masyarakat Timur. Begitu anak gadis (putri) tercemar nama baiknya,
maka orang tuanya akan mendapatkan malu yang luar biasa dalam
pergaulan di masyarakatnya.
Anak atau keturunan dari
orang tua merupakan harta yang tidak ternilai. Objek yang sangat
disayangi. Tumpuan harapan dan kebanggaan. Oleh karena itu pulalah,
orang tua sering tidak pernah merasa bahwa seorang anak juga bisa
menimbulkan aib atau rasa malu bagi keluarga (orang tua).
Pepatah ini ingin
mengingatkan orang agar selalu berhati-hati bahkan dengan orang yang
paling dekat, paling disayangi sekalipun.
a. sartono |