Bothekan

NJUNJUNG NGANTEBAKE

Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti mengangkat (tetapi kemudian) membanting.

Njunjung dalam bahasa Jawa secara konotatif juga memiliki makna memuji atau memuja. Sedangkan ngantebake bisa juga diartikan melepaskan (agar jatuh) terjerembab. Pepatah seperti ini biasanya digunakan untuk menggambarkan perilaku orang yang suka memuji orang lain tetapi pujian tersebut sebenarnya tidak tulus alias tidak jujur. Di balik pujian itu si pemuji memiliki maksud jahat agar si terpuji menjadi terjerumus, jatuh, bangkrut, sakit, mendapat malu, dan sebagainya.

Hal ini dapat dicontohkan misalnya ada orang yang sangat senang dipuji dan anti kritik karena menganggap dirinya paling benar dan paling baik. Oleh karena sifatnya yang demikian, maka orang di sekitarnya menjadi enggan memberikan nasihat atau kritikan. Orang di sekitarnya selalu menjunjung atau memujinya sekalipun pujian itu tidak tulus. Pujian diberikan karena si pemuji hanya ingin pamrih pada harta atau kekuasaannya.

Namun ada satu dua orang yang terus memuji dan mendorong dia agar dia melakukan sesuatu yang kelihatannya baik, tetapi di balik itu si pemuji memiliki tujuan agar si terpuji terjatuh dengan sendirinya. Entah terjatuh kehabisan harta, terjatuh dengan mendapat malu, terjatuh karena ketahuan kekurangannya, terjatuh karena tidak tahu bahwa dirinya sedang didorong menuju jurang kenistaannya dan seterusnya.

sartono