Bothekan

KAYA BELO MELU SETON

Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti seperti belo (anak kuda) ikut seton (setu-an).

Pepatah tersebut menggambarkan tentang orang yang hanya ikut-ikutan orang lain tanpa mengerti hakikat maksud dan tujuannya.

Belo atau anak kuda hampir tidak bisa dipisahkan dari induknya. Sama seperti anak-anak dengan ibunya. Sedangkan seton menunjuk pada kebiasaan yang terjadi pada setiap hari Sabtu yang dalam lidah orang Jawa sering disebut atau dilafalkan Setu.

Seton adalah sebuah acara latihan menunggang kuda, sodoran (latihan perang tombak), penjinakan kuda, dan sebagainya yang berhubungan dengan dunia perkudaan yang biasa dilakukan oleh raja-raja Jawa di masa lalu. Acara ini dilakukan pada setiap hari Sabtu dengan mengambil tempat (biasanya) di alun-alun. Kebiasan yang dilakukan di hari Sabtu atau Setu inilah yang kemudian menjadi istilah seton yang berasal dari kata dasar setu + an.

Dalam acar seperti itu kadang atau bahkan sering terjadi belo atau anak kuda ikut serta induknya karena anak kuda tersebut masih membutuhkan air susu sang induk. Belo ini jelas tidak terlibat apa pun dalam acara seton tersebut. Belo ikut datang pada acara seton tanpa mengerti apa, bagaimana, dan mengapanya tentang seton itu. Jadi orang yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti ujung pangkal tujuan dan maksudnya ibarat belo yang ikut seton.

sartono