|
Adat Istiadat
"GUNUNGAN
BRAMA" HANYA MUNCUL
GREBEG MULUD TAHUN DAL (2)
Pasukan
Gajah dan Kuda juga ikut dikerahkan dalam upacara Grebeg Mulud tahun
ini. Pasukan Hewan itu ikut mengantarkan Gunungan Jaler yang dibawa
ke Kadipaten Pura Paku Alaman. Ikut mengantar pula sebagian abdi
dalem dan prajurit Kraton Kasultanan. Di setip jalan yang dilewati,
masyarakat berjubel ingin melihat iring-iringan pasukan yang membawa
sebuah gunungan tersebut. Begitu pula ketika tiba di Pura Paku
Alaman, masyarakat yang hendak ikut “ngrayah” atau berebut gunungan
sudah menanti-nanti kedatangannya. Seperti biasa, para bakul aneka
jajanan dan mainan (termasuk penjual endhog abang) sudah ikut
meramaikan Grebeg Mulud dengan berjualan di depan halaman Pura Paku
Alaman.
Sementara itu iring-iringan
gunungan lainnya yang hendak didoakan di Masjid Gedhe Kauman Kraton
Kasultanan Yogyakarta, juga dikawal ketat oleh pasukan polisi,
pramuka, dan panitia grebeg. Tidak ketinggalan pula beberapa
prajurit kraton juga ikut mengawalnya. Hingga menuju Masjid Gedhe,
masyarakat terus berjubel ingin melihat dengan dekat Gunungan Brama
yang hanya muncul dalam setiap sewindu sekali (8 tahun sekali).
Setelah sekitar setengah jam, semua gunungan telah selesai didoakan
oleh para ulama Masjid Gedhe Kraton Kasultanan. Gunungan Brama
kembali diarak ke dalam
kraton
untuk diperebutkan oleh para kerabat dan sentana raja, begitu para
abdi dalem.
Ribuan orang yang telah
memadati Masjid Gedhe sejak pagi hari itu masih terus setia menunggu
gunungan-gunungan kraton yang hendak diperebutkan untuk rakyat
Yogyakarta. Usai didoakan, gunungan segera dipersembahkan ke rakyat
yang telah lama menunggu. Dalam hitungan menit, beberapa gunungan
yang terbuat dari berbagai makanan kecil kering dari ketan, makanan
matang, dan aneka sayur-mayur ludes dirayah oleh para rakyat
Yogyakarta. Sementara itu, para pengunjung yang berada di luar
masjid juga ikut-ikutan hendak masuk. Mereka terus merangsek masuk
sehingga halaman masjid semakin dijejali ribuan manusia. Bahkan
tidak jarang ada yang pingsan. Anak-anak kecil, muda, dan tua, baik
laki-laki dan perempuan berbaur menjadi satu. Mereka berusaha
memperoleh limpahan berkah gunungan yang kadang-kadang dilempar oleh
orang-orang yang telah berada di gunungan. Bagi yang dekat, jelas
kebagian jatah. Namun bagi yang letaknya jauh dari gunungan, cara
satu-satunya untuk memperoleh adalah menunggu lemparan dari
orang-orang yang dekat gunungan tersebut atau kadang meminta kepada
mereka yang telah memperoleh ubarampe gunungan itu. Tidak jarang
pula, sebagian besar pengunjung Grebeg Mulud itu hanya bisa gigit
jari dan tidak mendapatkan apa-apa.
Apa
yang menyebabkan orang rela berdesak-desakkan memperebutkan ubarampe
gunungan? Memang menurut kepercayaan yang sudah turun-temurun dari
simbah-simbah dan nenek moyang dahulu, ada kepercayaan bahwa
gunungan dari raja itu membawa berkah bagi yang memperolehnya.
Gunungan itu sebagai ungkapan cinta kasih raja kepada kawulanya.
Maka berkah dari raja diharapkan bisa benar-benar membawa
kesejahteraan kawulanya. Dalam kenyataannya, kadang ada tindakan
yang ekstrim dari kawulanya. Berkah gunungan itu lebih banyak yang
diyakini untuk menambah lancarnya rejeki bagi mereka. Bagi para
petani, ada keyakinan, ubarampe yang diperoleh dari gunungan, jika
disebar atau ditanam di lahan pertanian dapat menyebabkan hasil
panen melimpah. Semenntara bagi pedagang akan menambah dagangannya
laris. Untuk para pegawai agar mudah naik jabatan dan sebagainya.
Itulah gugon-tuhon yang masih diyakini oleh sebagian warga
masyarakat yang hidup di lingkungan kraton.
bersambung
Suwandi |