Adat Istiadat

TRADISI MERTI DUSUN KI AGENG TUNGGUL WULUNG, SENDANGAGUNG, MINGGIR, SLEMAN (II)

Pada pagi harinya yakni hari Jumat, 24 Juli 2009 antara jam 09.00-11.00 WIB diadakan pentas karawitan di pendapa rumah jurukunci makam Tunggul Wulung yang bernama Hadi Perno (80). Jam 12.00 WIB rangkaian acara merti dusun distirahatkan untuk menunaikan ibadah shalat Jumat. Jam 13.00 WIB acara dilanjutkan dengan kegiatan berupa pentas karawitan dan tari-tarian. Jam 14.00 WIB bergada Prajurit Tunggul Wulung berpamitan kepada jurukunci untuk menjemput rombongan yang akan membawa sesaji ke kompleks petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung.

Bregada Prajurit Tunggul Wulung ini untuk menjemput rombongan pembawa sesaji diberi bekal berupa tombak-tombak pusaka warisan Ki Ageng Tunggul Wulung. Nama-nama pusaka tombak warisan Ki Ageng Tunggul Wulung ini di antaranya bernama Kyai Naga Klinting, Kyai Naga Slamet, dan Kyai Tunggul Wasesa. Pasukan Prajurit Ki Ageng Tunggul Wulung ini dalam perjalanannya menjemput rombongan yang akan memberikan sesaji juga diikuti oleh rombongan warga dari berbagai unsur. Formasi barisan ini setelah mendapatkan ijin dan restu jurukunci segera berangkat ke tempat berkumpulnya rombongan warga yang akan memberikan sesaji di Balai Desa Sendangagung. Jarak antara rumah jurukunci (kompleks petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung) ini kira-kira sejauh 2 kilometer.

Ketika semuanya sudah sampai, pasukan Prajurit Ki Ageng Tunggul Wulung kemudian lapor kepada pejabat setempat dan meminta ijin untuk membawa/mengawal rombongan yang akan membawa sesaji. Setelah semuanya siap rombongan ini kembali ke rumah jurukunci di Dukuhan, Sendangagung, Minggir, Sleman. Iring-iringan pembawa sesaji yang berupa rangkaian hasil bumi dan melibatkan warga dari banyak pedukuhan ini di dalam perjalanannya akan diiringi dengan musik yang dibunyikan oleh Prajurit Ki Ageng Tunggul Wulung.

Setelah sampai di rumah jurukunci kembali, mereka diterima oleh jurukunci. Acara dilanjutkan dengan sambutan atau pidato dari aparat terkait baik dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Bupati/Wakil Bupati Sleman, Camat Minggir, maupun panitia.

Wakil Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo yang hadir dalam kesempatan itu menyampaikan sambutannya bahwa Pemda Sleman mendukung acara Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung. Kita mencintai budaya Jawa karena kita hidup di Jawa yang tentunya tidak bisa lepas dari kesejarahan Jawa dan kebudayaannya. Pemda Sleman sangat berharap tradisi semacam ini akan terus terlestarikan mengingat banyak kandungan ajaran dan nilai filosofisnya yang penuh makna.

Usai itu acara dilanjutkan dengan Tari Tayub Sakral. Tari Tayub Sakral ini tidak boleh diibing atau diiringi penari (tandak) pria. Tari Tayub Sakral sengaja disajikan sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Tunggul Wulung. Hal itu terjadi karena Ki Ageng Tunggul Wulung dianggap menyukai jenis kesenian ini di masa hidupnya. Anggapan semacam itu muncul karena berdasarkan cerita leluhur yang diturunkan secara turun-temurun di tempat itu dikatakan bahwa pada suatu ketika ada ledhek tayub yang mendatangi petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung yang terletak di pinggiran Sungai Progo itu. Secara tiba-tiba ledhek tayub tersebut hilang dari pandangan. Ia moksa. Berdasarkan peristiwa ini kemudian muncul keyakinan bahwa ledhek tayub tersebut dikersakake ’diambil’ oleh Ki Ageng Tunggul Wulung. Oleh karena itu pulalah dalam setiap acara Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung selalu disajikan Tari Tayub.

Usai pementasan Tayub Sakral kemudian disusul dengan pementasan Tari Tayub umum. Artinya tari tayub ini boleh diibing. Acara ini biasanya akan mendapatkan perhatian besar dari masyarakat karena tarian ini melibatkan penari pria dan wanita secara berpasang-pasangan. Tari tayub ini sebenarnya mengandung makna simbolik sebagai tari kesuburan yang dilambangkan dengan pertemuan antara unsur laki-laki dan perempuan. Antara lingga dan yoni. Hal demikian tidak lepas dari ritual merti dusun sendiri yang pada intinya ucapan syukur atas keberhasilan panen dan permohonan kesuburan agar panenan mendatang jauh lebih berhasil. Selain itu warga atau masyarakat juga memohon agar kehidupan mereka lebih tenang, sehat, sejahtera, makmur, dan nyaman.

Upacara tradisional Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung ini diakhiri dengan penyerahan sesaji berupa hasil bumi di kompleks Petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung. Penyerahan sesaji ini akan dipimpin oleh jurukunci. Sebelumnya jurukunci akan berdoa terlebih dulu di Petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung. Setelah itu barulah serah terima sesaji dilakukan di pendapa kompleks Petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung. Di tempat inilah kemudian sesaji tersebut diperebutkan oleh seluruh peserta yang hadir di tempat itu. Orang-orang yang memperebutkan sesaji itu umumnya percaya bahwa dengan membawa pulang sesaji tersebut mereka akan mendapatkan berkah. Usai itu usai pulalah puncak acara Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung.

Malam harinya sebagai penutup dari seluruh rangkaian upacara adat tersebut akan dipergelarkan pentas wayang kulit semalam suntuk di pendapa rumah jurukunci dengan lakon Sri Mulih atau Makukuhan. Lakon ini menceritakan seluk beluk terjadinya tanaman padi, hama, dan cara penanggulangannya. Tokoh Utama yang bermain dalam lakon ini adalah Dewi Sri (Dewi Kesuburan) dan Raden Sadana. Untuk acara pergelaran wayang kali ini Ki Kustiyono dari Secang, Magelang yang bertindak sebagai dalangnya.

tim tembi : a sartono, suwandi, agus kamsek, awang, budi, fx purwanto