Adat Istiadat

UPACARA KIRAB TEBU MANTEN PG MADUKISMA (1)

Seperti biasa, untuk menyambut musim giling dan suling tahun 2009, PG. Madukisma yang berlokasi di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul itu kembali menyelenggarakan Kirab Tebu Manten atau diukenal juga dengan Upacara Cembengan. Rangkaian acara untuk menyambut atau selamatan Buka Giling-Suling 2009 itu meliputi Pasar Malam (12-25 April 2009), Pentas Campursari dan Band (22 April 2009), Pentas Keroncong dan Ketoprak (23 April 2009), Puncak Acara Kirab Tebu Manten (24 April 2009), Pentas Wayang Kulit Semalam Suntuk oleh Dalang Seno Nugroho dengan lakon Semar Boyong, dan sebagai penutup adalah Festival Band (25 April 2009).

Tebu Manten yang dikirabkan mengelilingi kompleks Pabrik Gula Madukisma adalah dua jenis tebu yang masing-masing terdiri atas sembilan batang tebu dan diikat menjadi satu sesuai dengan jenisnya. Panjang masing-masing tebu tersebut sekitar 4 meteran. Satu kelompok (ikat) jenis tebu yang berwarna hitam dinamakan Kyai Tumpak dan satu ikat tebu yang lain dan berwarna kuning dinamakan Nyai Pon. Penamaan Tebu Manten ini setiap tahun berbeda karena disesuaikan dengan hari pasaran ketika kirab tersebut dilaksanakan.

Tebu Manten ini dikirab dengan menggunakan kereta terbuka dan berpayung warna emas. Kereta tersebut ditarik oleh dua ekor kuda. Iring-iringan Kirab Tebu Manten ini diawali oleh kelompok marching band yang terdiri dari unsur-unsur sekolah dan masyarakat di sekitar PG. Madukisma, rombongan kesenian kuda lumping. kecuali itu ada juga barisan kaum tani dan penebang tebu, barisan tawon selaku penggemar gula (rasa manis), barisan Prajurit Kalipakisan sebagai pengawal Tebu Manten, kereta Tebu Manten, Pegawai PG Madukisma (PT Madubaru), dan masyarakat umum. Kereta pembawa Tebu Manten ini dikawal oleh empat orang punakawan, yakni Semar, gareng, Petruk, dan Bagong. Masing-masing dua orang punakwan di kanan dan kiri kereta.

Rute perjalanan Kirab Tebu Manten ini kira-kira mencapai 3,5 kilometer. Setelah kereta Tebu Manten sampai di Masjid di kawasan PG. Madukisma, Tebu Manten dinikahkan. Usai dinikahkan, Tebu Manten kemudian dikirab kembali hingga masuk ke kompleks PG. Madukisma. Di dalam kompleks PG Madukisma ini Tebu Manten diserahterimakan oleh petani tebu yang dalam hal ini diwakili oleh Ir. Chapsol Jaskandi selaku Kepala Bagian Tanaman PG. Madukismo. Penyerahan Tebu Manten ini secara simbolis melambangkan bahwa seluruh tebu hasil tanaman petani diserahkan kepada pabrik untuk diproses leioh lanjut. Tebu yang diserahkan tersebut kemudian diterima oleh Ir. Suharyanto selaku Kepala Bagian Pabrikasi PG Madukisma.

Serah terima Tebu Manten ini disaksikan oleh pejabat di lingkungan PG Madukisma, karyawan, tamu undangan, dan insan pers. Pejabat-pejabat yang tampak hadir dalam acara itu di antaranya adalah GKR Pembayun selaku Komisaris Utama PG Madukismo dan Ir. PG Madukisma, Ir. Rahmad Edi Cahyono, Msi. Usai diterima, Tebu Manten kemudian diletakkan di atas mesin penggilingan. Pada saat mulai giling, Tebu Manten inilah yang akan digiling untuk pertama kali. Perpaduan Tebu Manten laki-laki dan perempuan yang menyatu dalam penggilingan diharapkan akan menghasilkan cairan gula yang menyatu dengan kadar gula yang cukup tinggi. Demikian pula nantinya dapat menghasilkan alkohol dan spiritus dalam jumlah yang cukup banyak.

Setelah Tebu Manten diletakkan di mesin penggiling, semua karyawan, wakil petani, dan para pimpinan di PG Madukisma kemudian mengadakan selamatan (berdoa) bersama. Di tempat doa yang letaknya berada di sisi mesin giling itu telah disiapkan 40 buah sajen berupa nasi tumpeng, buah-buahan, dan ingkung bakar ayam kampung. Ke empat puluh sajen ini melambangkan 40 unit kerja di lingkungan PG Madukisma. Unit-unit kerja itu antara lain bagian Limbah, Boiler, Sulingan, Remise, Traktor, Gilingan, Gudang Pusat, Poliklinik, Ketel, Verdamping, Gudang Alkohol, dan lain-lain.

bersambung

tim tembi: a sartono, suwandi, agus kamsek