|
Adat Istiadat
UPACARA RUWATAN SETENGAH KELIR DI NGENTAK, BANGUNJIWA, KASIHAN,
BANTUL
Asap
kemenyan hampir memenuhi seluruh ruangan yang dijadikan tempat
upacara ruwatan di Dusun Ngentak, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul,
Yogyakarta. Bau harum kemenyan demikian menyengat. Sajen ruwatan
tertata dengan rapi pada enam buah meja. Sedangkan sajen lainnya
diletakkan di tanah dan digantung di langit-langit tratag tempat
upacara. Sebagian lagi digantungkan pada sisi kelir. Sementara itu
di panggung, sang dalang dengan penuh keseriusan mementaskan lakon
wayang Murwakala. Gambaran semacam itu secara umum juga dapat
ditemukan di tempat upacara ruwatan yang lain di berbagai tempat di
Jawa.
Pada upacara ruwatan semacam
itu sajen yang disajikan untuk penyelenggaraan upacara ruwatan harus
lengkap. Sajen itu di antaranya berupa tumpeng tujuh warna, tumpeng
robyong, nasi ambeng lengkap dengan lauk pauknya, nasi gurih,
ingkung ayam, pisang raja
setangkep,
cermin, gunting, pisau, nasi golong, boreh, beras dan uang sawur, 7
macam rujak, 7 macam jenang, jajan pasar, bantal, sapu lidi, pecut,
kembang telon, uang wajib, kembang melati, kembar mayang, tumpeng
kuning putih, tikar, kelapa gading, payung kertas, bakul dari bambu,
siwur (gayung) kayu, ketupat, selongsong ketupat, sajen buwangan,
pala gumantung, pala kesimpar, pala kependem, iwen-iwen (unggas),
alat pertanian, gecok, padi, tebu, berbagai jenis kain, gudhangan,
dan berbagai jenis burung khas peliharaan orang Jawa masa lalu
(tekukur, perkutut, dan merpati).
Upacara ruwatan di Dusun
Ngentak ini dilaksanakan untuk meruwat anak kedhana-kedhini yakni
Siswinarno dan Siswinarni. Keduanya merupakan putra dari Bapak
Praptosudiono. Kedhana-kedhini adalah istilah yang dikenakan pada
dua orang anak, laki-laki dan perempuan dalam sebuah keluarga inti.
Kedhana-kedhini dalam pandangan masyarakat Jawa termasuk salah satu
kategori sukerta. Untuk itulah kedhana-kedhini termasuk kategori
orang yang harus diruwat. Jika hal itu tidak dilakukan, maka
dipercaya bahwa anak tersebut akan mendapatkan berbagai halangan di
dalam perjalanan hidupnya. Dalam kerangka itu orang yang
bersangkutan akan menjadi mangsa dari Batara Kala.
Batara Kala adalah raksasa
anak Dewi Uma dengan Batara Guru. Dalam dunia pewayangan diceritakan
bahwa pada suatu ketika Dewi Uma dan Batara Guru berjalan-jalan
dengan menaiki Lembu Andini yang dapat terbang. Perjalanan mereka
sampai di
atas
sebuah samudera luas. Hari itu telah menapaki waktu senja. Cahaya
matahari senja yang menerpa tubuh Dewi Uma nampak mempesonakan di
mata Batara Guru. Seketika timbul hasrat berahinya. Di atas punggung
Lembu Nandi itu pula Batara Guru mengajak Dewi Uma untuk bersetubuh.
Namun hal ini ditolak oleh Dewi Uma. Akibat nafsu yang tidak
terbendung air mani Batara Guru jatuh di atas samudera. Cerita
tentang kehadiran Batara Kala sendiri setidaknya bisa dilihat pada
sumber-sumber seperti Kakawin Partayajna, Sudamala, Smaradahana,
Krsnakalantaka, Kitab Manikmaya, Sarasilah Wayang Purwa, dan Serat
Kandhaning Ringgit Purwa.
Mani yang jatuh di atas
samudera ini akhirnya menjelma menjadi raksasa yang bernama Kala. Ia
meminta makan jenis manusia kepada Batara Guru. Batara Guru
mengijinkan dengan syarat-syarat tertentu, yakni orang-orang yang
digolongkan sebagai orang sukerta.
Orang-orang
yang termasuk sukerta ini selain kedhana-kedhini di antaranya adalah
ontang-anting (anak tunggal laki-laki dalam sebuah keluarga),
unting-unting (anak tunggal perempuan), kembang sepasang (dua anak
perempuan), pandawa (anak lima laki-laki semua), dan sebagainya.
Akan tetapi Batara Narada,
yang mencermati syarat-syarat yang diajukan Batara Guru itu,
menilainya masih terlalu longgar. Demi menyelamatkan manusia dari
Batara Kala kemudian diusulkan agar Batara Wisnu turun ke arcapada
untuk meruwat Batara Kala. Caranya, Batara Wisnu menyamar menjadi
dalang dengan nama Dalang Kanda Buwana.
Pada suatu ketika Batara
Kala mengejar seorang pemuda yang bernama Jaka Jatusmati untuk
dimangsa. Setelah beberapa kali bersembunyi Jaka Jatusmati
bersembunyi di arena pementasan wayang yang dilakukan oleh Dalang
Kanda Buwana. Di tempat ini Jaka Jatusmati mendapat perlindungan
dari Dalang Kanda Buwana. Bahkan ia juga diruwat dan diaku anak oleh
Dalang Kanda Buwana.

Semua rajah yang ada di
tubuh Batara Kala pun dibaca oleh sang dalang. Dengan demikian,
Batara Kala mengaku kalah. Untuk itu Batara Kala diperintahkan untuk
tinggal di Alas Krendawahana, sebuah hutan yang dikenal angker atau
kerajaan jin, setan, hantu, dan sebangsanya. Dengan itu pula Batara
Kala dilarang mengganggu anak/orang yang telah diruwat oleh sang
dalang sebab setiap anak yang diruwat secara otomatis menjadi anak
angkat dari dalang yang meruwatnya. Batara Kala bersedia tinggal di
Alas Krendawahana dengan syarat minta didoakan Santi Puja atau
mantra penyucian.
Pementasan wayang Murwakala
di Ngentak tersebut disebut dengan pakeliran setengah kelir. Hal ini
didasarkan pada alasan bahwa kelir yang digunakan untuk mementaskan
wayang memang hanya digunakan setengahnya (dipelorotkan hingga
separo). Sedangkan setengah bagian lainnya dibiarkan bolong atau
terbuka. Alasannya, hal itu digunakan untuk tempat berdialog antara
Dalang Kanda Buwana dan Batara Kala yang masuk ke arena pementasan
wayang.

Pada prinsipnya urut-urutan
acara upacara ruwatan adalah sebagai berikut. Pertama, pementasan
wayang dengan lakon Murwakala. Pada pementasan itu semua orang yang
diruwat duduk di belakang kelir dengan pakaian putih-putih (mori)
untuk menandakan niat suci mereka. Di tempat itu mereka menyimak
seluruh penceritaan sang dalang. Sesudah acara pementasan selesai
orang yang diruwat dipotong ujung rambutnya oleh sang dalang. Ujung
rambut ini nantinya akan dilarung bersama pakaian dalam dan kuku
orang yang diruwat. Usai memotong rambut, orang yang diruwat
dimandikan dengan air kembang sebagai bentuk penyucian diri. Setelah
berganti pakaian kering mereka melakukan sungkeman kepada orang tua
dan saudara tua. Acara ruwatan pun usai. Ayu, ayu swarga lan
donya ginawe ayu……
tim tembi: sartono, p.a.
herjaka h.s. |