Adat Istiadat

TRADISI MERTI DUSUN DI DUSUN KREBET

Upacara bersih desa (merti dusun) merupakan upacara pembersihan diri masyarakat dan lingkungan dari kejahatan, dosa dan segala hal yang menyebabkan kesengsaraan. Perayaan bersih desa juga menandakan adanya sisa-sisa adat penghormatan terhadap roh nenek moyang, disamping ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara ini baru saja saja dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul pada Sabtu 7 Juni 2008. Tradisi bersih desa atau umbul donga puja basuki ini merupakan agenda rutin setiap tahun. Dari tahun ke tahun tradisi ini berkembang, lebih-lebih setelah Dusun Krebet berkembang sebagai desa wisata. Dusun ini merupakan penghasil kerajinan batik kayu yang cukup terkenal di wilayah Yogyakarta.

Urutan upacara bersih desa tersebut diawali bucalan/buangan, yakni membuang sesaji berupa panjangilang yang berisi buah-buahan, jajan pasar, dan ancak yang berisi nasi tumpeng dan lauk pauknya. Bucalan dilakukan di jalan sebelah selatan pendhapa dusun dengan kawalan satu bregada prajurit. Dalam memberi aba-aba pimpinan bregada memakai bahasa Jawa. Setelah itu bregada prajurit menuju balai dusun. Di sana telah berkumpul rombongan pembawa gunungan dan pembawa panjangilang dan ancak. Rombongan terdiri 5 RT dengan kepala RT sebagai kepala rombongan. Dalam kegiatan ini lingkungan RT yang mendapat jatah membuat gunungan tidak membuat panjangilang dan ancak. Untuk tahun ini yang mendapat giliran adalah RT 3, sedangkan panjangilang dan ancak dibuat di rumah masing-masing sehingga isinya bervariasi walaupun pada intinya sama yakni berupa nasi tumpeng dan lauk pauknya serta buah-buahan dan jajan pasar.

Setelah semuanya siap, kirab dimulai. Sebelum kirab, gunungan besar yang terbuat dari hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran didoakan dulu oleh sesepuh desa Bapak Ngadimin diiringi pembakaran kemenyan. Doa yang dipakai adalah doa jawa. Ketika ditanyakan maknanya, Bapak Ngadimin hanya mengatakan doa tersebut intinya adalah permohonan kekuatan kepada Tuhan sesuai bentuk gunungan yang lurus dan mengerucut ke atas, yang dalam bahasa Jawa disebut gunungan jejeg yang melambangkan jejeging kekarepan. Urutan kirab paling depan adalah bregada prajurit, diikuti rombongan RT 3 yang membawa gunungan, kemudian rombongan RT 1, RT 2, RT 4, RT 5 serta masyarakat atau penonton yang menuju arah utara dusun kemudian belok ke arah timur. Setelah sampai di perempatan Krebet (tepatnya sebelah utara sanggar batik kayu Punakawan) diadakan bucalan lagi. Bucalan ini dan juga bucalan sebelumnya langsung menjadi rebutan masyarakat. Kirab dilanjutkan ke selatan menuju pendapa dusun yang kebetulan menjadi satu dengan rumah Kepala Desa Sendangsari, Bapak Sapto Sarosa.

Di pendapa inilah diadakan doa bersama. Mula-mula oleh Bapak Ngadimin dengan doa jawa, yang isinya antara lain bahwa wilujengan atau bersih desa ini untuk keselamatan rumah dan penghuninya, permohonan berkah agar lancar dalam mencari rejeki dan dimaafkan salahnya, doa kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta nabi-nabi yang lain, pangabekti dan doa untuk arwah yang telah mendahului, wilujengan umum untuk penjaga bumi langit dan isinya. Setelah itu doa oleh kaum rois secara Islam. Setelah selesai berdoa diadakan makan bersama dengan membagi-bagikan ancak dan panjangilang kepada masyarakat, sedangkan gunungan dibawa ke lapangan dusun untuk diperebutkan.

Menurut Kepala Dusun Krebet Bapak Kemiskidi dan beberapa penduduk Krebet yang telah berusia lanjut, tradisi ini sudah ada sejak lama namun tepatnya kapan tidak ada yang tahu. Yang jelas tradisi tersebut dilestarikan hingga saat ini. Tradisi bersih desa diadakan setelah panen raya palawija (jagung, kacang dan lain-lain) yang dilaksanakan pada bulan Jumadilakir hari Sabtu Legi. Masing-masing keluarga membuat nasi kenduri (berupa tumpeng dan lauk pauknya) di rumah masing-masing kemudian dibawa ke rumah kepala dusun. Di sana diadakan kenduri dan doa bersama, kemudian nasi kenduri dibawa pulang untuk dimakan. Sebelum kenduri masing-masing keluarga membuat sesaji (sajen) di rumah masing-masing. Sesaji ini bentuknya bisa berbeda tetapi intinya sama, yaitu tumpeng jejeg, nasi golong, lauk pauk (tempe goreng, telur dadar, rempeyek sesuai kemauan), wedang dhekokan/teh tanpa gula, air putih, ganten (terdiri sirih, gambir, enjet/kapur sirih, tembakau), udud (terdiri tembakau, cengkeh, klembak dalam lintingan kertas), dan bunga (mawar, melati, kenanga). Sesaji ini didoakan diiringi pembakaran kemenyan. Selain itu di tempat-tempat tertentu diberi sesaji berupa tumpeng, lauk pauk, sirih, dan tembakau dalam ukuran kecil.

Baru pada tahun 2000 seiring dengan meningkatnya ekonomi masyarakat, berkat kerajinan batik kayu dan atas usul Bapak Sugiyanto yang pada waktu itu menjabat sebagai camat Pajangan, pada saat bersih desa diadakan kirab. Perubahan lainnya adalah adanya pentas kesenian untuk menghibur masyarakat. Pada tahun 2008 pentas seni yang diadakan adalah ketoprak, jathilan, Koes Plus mania, reog dan pentas wayang kulit. Juga siraman rohani berupa pengajian oleh KH Muhaimin. Bila dulu pesertanya hanya warga dusun Krebet, sekarang ditambah tamu undangan dari instansi terkait seperti pejabat tingkat desa, kecamatan dan dinas pariwisata.

Upacara tradisi bersih desa di Dusun Krebet ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala karuniaNya dengan harapan di masa yang akan datang menjadi lebih baik. Juga menciptakan kerukunan dan kegotongroyongan antar warga, pengembangan pariwisata dan pesta rakyat/hiburan.

Teks dan foto : M. Kusalamani