Adat Istiadat

UPACARA WIWIT DI TEMBI

Minggu, 30 Maret 2008 jam 13.30 WIB dengan bertempat di areal persawahan di belakang kompleks Tembi House of Culture dilakukan Upacara Wiwit. Upacara Wiwit adalah upacara yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa sebelum memulai proses penuaian (panen) padi. Upacara ini lahir sebagai bentuk ucapan rasa syukur terhadap Tuhan atas segala kemurahanNya serta wujud penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sebagai Dewi Kesuburan atau Dewi Padi.

Rangkaian Upacar Wiwit ini umumnya dimulai dengan menandai sawah yang akan dipanen. Penandaan ini biasanya hanya berupa penancapan sebatang tongkat (bambu) di sisi sawah yang dimaksud. Sesudah itu pemimpin upacara (dukun) menyiapkan tempat untuk peletakan sesajen di sawah yang akan dipanen tersebut dengan cara menyibakkan tanaman padi ke kanan dan ke kiri. Pada sibakan tanaman padi tersebut akan terbentuk ruang. Ruang inilah yang kemudian diberi bentangan tikar. Sesudah tikar dibentangkan di tempat itu sajen kemudian diletakkan di atasnya.

Sajen Upacara Wiwit umumnya terdiri atas nasi liwet, nasi tumpeng, nasi golong, urap (gudangan), pisang raja setangkep, kembang boreh, sirih ayu, kaca cermin, sisir, serit, jajan pasar, aneka jenang, ingkung ayam, telur bebek, sambal gepeng, ikan asin (gereh pethek), aneka lauk yang digoreng, kendi berisi air bening, daun pulutan, daun salak, daun keluwih, daun jati, daun kelor, daun dadap serep, pala gumantung, pala kasimpar, dan kemenyan.

Menurut mitos, sajen ini diperuntukkan untuk Dewi Sri dan Batara Sadana selaku Dewi-Dewa Pertanian. Masyarakat Jawa pada masa lalu umumnya percaya bahwa ketika panen padi dilakukan, maka Dewi Sri akan turun ke sawah untuk ikut mengawasi dan memberi berkah kepada petani dan sawahnya. Untuk itulah sebagai bentuk penghormatan terhadapnya perlu dibuatkan semacam suguhan atau sajen seperti tersebut di atas.

Begitu sajen sudah dianggap lengkap dan tertata di atas tikar, maka pemimpin upacara pun akan memanjatkan doa atau mantra-mantra. Doa-doa itu umumnya berisi ucapan syukur kepada Tuhan dan permohonan kepadaNya agar di kemudian hari hasil panen bisa lebih meningkat lagi. Kecuali itu doa atau mantra itu juga berisi ucapan terima kasih atas kemurahan Dewi Sri selaku Dewi Kesuburan atau Dewi Padi.

Sesudah doa atau mantra selesai dilakukan, pemimpin upacara akan mengucurkan air kendi tersebut dengan posisi melingkari (di luar) kumpulan sajen. Barulah kemudian dilakukan pemotongan Padi Penganten. Padi Penganten adalah padi yang tumbuh dan berbuah berdampingan dengan jumlah bulir padi yang dianggap sama banyak dan sama tuanya. Padi Penganten dalam kepercayaan masayarakat Jawa dianggap sebagai penjelmaan dari Dewi Sri-Batara Sadana. Padi Pengantin ini sebagian dibawa pulang dan sebagian lagi diletakkan di 4 pojok sawah yang dipanen. Umumnya jumlah Padi Penganten yang diambil sebanyak dua kali jumlah weton (hari dan pasaran) ketika Upacara Wiwit itu dilakukan. Jika jumlah weton pada saat Upacara Wiwit itu berjumlah 12, maka jumlah Padi Penganten yang dipotong adalah 24 tangkai.

Padi Penganten yang dibawa pulang ini lalu diletakkan di senthong tengah, yang dikenal juga dengan nama patanen atau padaringan. Senthong tengah bagi masyarakat Jawa merupakan senthing sakral yang hanya dikhususkan untuk Dewi Sri. Padi Penganten yang diletakkan di senthong tengah ini disimpan beserta daun keluwih, daun jati, daun salak, daun dadap serep, daun pulutan, dan daun kelor. Semua daun tersebut dianggap mampu memberi efek awet pada padi. Selain itu daun-daun tersebut juga memiliki makna simbolik.

Daun jati bermakna agar orang hidup dalam kesejatian, menemukan jati diri, mengangkat harkat jati dirinya, dan sebagainya. Daun keluwih bermakna agar orang yang bersangkutan memiliki banyak keluwihan (kelebihan). Daun pulutan bermakna agar orang yang bersangkutan rejekinya lekat, persaudaraannya lekat. Daun salak bermakna berhati-hati karena orang tidak akan pernah lepas dari salah. Daun kelor bermakna kalis atau lepas dari sakalir ‘sesuatu/segala hal yang mengganggu.’ Daun dadap serep bermakna agar orang mudah menyerap segala yang baik, meredam segala hal yang bermakna panas atau jahat.

Begitu Padi Penganten sudah dibawa pulang dan sajen sudah didoakan, maka nasi dan segala macam hidangan sajen itu kemudian dibagikan kepada semua peserta yang hadir di dalam Upacara Wiwit tersebut. Hal ini sebagai bentuk sedekah sekaligus ungkapan syukur petani yang akan melakukan panen tersebut. Setelah semuanya selesai, proses pemanenan bisa dilakukan. Akan tetapi proses pemanenan itu sendiri umumnya dilakukan selang satu hari setelah Upacara Wiwit berlangsung.

Upacara Wiwit yang dilakukan oleh Tembi House of Culture ini dipimpin oleh Mbah Joyo Sumarto dan diikuti oleh hampir semua karyawan Tembi dan hampir semua petani yang menjadi mitra Tembi dalam program penanaman padi organik untuk jenis padi Pandan Wangi. Program penanaman padi organik pada lokasi di seputaran kompleks Tembi itu meliputi areal persawahan seluas 3,5 hektar dan melibatkan sekitar 35 orang petani dari Dusun Tembi dan Dusun Slanggen, Kelurahan Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

Menurut tuturan semua petani yang hadir dalam upacara itu, mereka merasa puas karena hasil panenan padi organik ini kelihatan sangat bagus (berhasil). Pasca panen padi organik jenis Pandan Wangi ini, areal persawahan seluas 3,5 hektar ini akan ditanami jenis padi Somali yang menurut penuturan Purwanto selaku pembina petani, kualitasnya lebih bagus. Berasnya lebih enak dan lebih pulen dibandingkan Pandan Wangi. Semoga penanaman dan panenan berikutnya lebih meningkat lagi dibandingkan kali ini. Dewi Sri dan Batara Sadana semoga turun ke sawah Tembi.

Foto dan teks: Sartono K.