|
Yogjamu
KERUSAKAN JEMBATAN DAN
GORONG-GORONG
KARENA BANJIR DI JOGJA
Faktor alam pada satu sisi
bisa memberikan keuntungan kepada manusia. Akan tetapi pada sisi
yang lain juga dapat memberikan kerugian. Hujan pada salah satu sisi
dapat memberikan suplai air yang dibutuhkan manusia serta makhluk
hidup lain. Namun juga dapat memberikan dampak buruk berupa banjir,
erosi, dan genangan yang mengundang nyamuk. Banjir seperti sudah
diketahui sering memberikan dampak buruk pada infrastruktur atau
bangunan yang dibuat oleh manusia. Jalan, jembatan, talud, dam,
saluran irigasi/pengatusan, gorong-gorong, dan lain-lain sering
rusak akibat terjangan banjir.
Hal yang sama juga terjadi
di Jogja. Hujan dan banjir pada tahun 2011 setidaknya telah
merusakkan beberapa jembatan di Jogja sekalipun pada
jembatan-jembatan relatif besar hal itu tidak mengakibatkan ambrol
atau putusnya jembatan tersebut. Akan tetapi pada jembatan-jembatan
yang relatif kecil serta beberapa gorong-gorong hal itu menimbulkan
dampak kerusakan yang cukup parah. Gorong-gorong yang rusak parah
misalnya terjadi di Jl. Mas Suharto (Jambu) di sisi timur Hotel
Melia Purosani. Kebetulan gorong-gorong ini keletakannya begitu
dekat dengan Jembatan Jambu yang juga mengalami beberapa keretakan
karena banjir. Baik banjir lahar dingin Desember 2010 yang kemudian
disusul banjir Desember 2011.
Kecuali itu, banjir juga
mengakibatkan beberapa tebing Sungai Code dan Sungai Gajah Wong
ambrol. Ada pula jembatan di Kampung Pingit yang patah. Hal-hal
seperti ini tentu saja merugikan warga sekitar. Akses terganggu,
kelancaran hubungan sosial dan ekonomi juga terganggu. Pembangunan
atau perbaikan kembali akan infrastruktur ini juga membutuhkan
alokasi dana yang memadai.
Kerusakan-kerusakan aneka
bangunan yang dibuat untuk kenyamanan hidup warga itu sudah
semestinya mulai dipikirkan tentang kualitasnya. Dipikirkan tentang
keawetan daya gunanya. Mungkin juga semua bangunan itu telah dibuat
atau dibangun sesuai standar kualitas bangunan yang baik. Akan
tetapi tidak ada salahnya jika pada pembuatan atau rehabilitasi
berikutnya perihal kualitas itu lebih diperhatikan lagi. Sebab
apalah artinya sanggup membangun jika bangunan yang dibuat kemudian
tidak bisa bertahan lama. Lebih membuat malu bila tidak bisa
bertahan lamanya bukan karena faktor bencana namun karena faktor
pencarian space keuntungan yang besar dengan mengurangi berbagai
ukuran dan bahan bangunannya. Tentu saja hal demikian tidak kita
harapkan.
Kerusakan aneka bangunan
yang menjadi fasilitas publik ini sepertinya juga menghentakkan kita
semua untuk semakin peduli pada hal tersebut. Peduli pada
pengawasannya, peduli pada perawatan atau pemeliharaannya.
Kepedulian bersama ini akan membuat fasilitas publik menjadi lebih
awet dan lebih bisa memberikan daya dukung maksimal bagi kehidupan
manusia.
a.sartono
  
 |