Figur Wayang

Petruk
Petruk yang digambarkan dalam bentuk wayang kulit Purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Petruk

Petruk adalah adiknya Gareng, anak angkat Semar yang nomor dua. Postur tubuhnya jangkung dengan anggota badan yang serba panjang. Leher panjang, hidung panjang, tangan dan kakinya panjang, rambutnya dikuncir, mata agak sipit, bibirnya selalu mengulum senyum. Saking seringnya tersenyum Petruk senang tersenyum-senyum sendiri, seperti orang yang kehilangan ingatan. Oleh karena perangainya yang lucu, ramah dan murah senyum ia selalu tampil menghibur dan akrab dengan semua orang termasuk anak-anak.

Sebelum diangkat anak oleh Semar, Petruk adalah seorang ksatria bernama Bambang Precupanyukilan dari padepokan Kembangsore. Ia adalah sosok pemuda tampan yang gemar memperdalam ilmu dari kerajaan ke kerajaan serta menjalani laku tapa dari hutan ke hutan dan gunung ke gunung. Sebagai anak muda Bambang Precupanyukilan pantas berbangga dengan ketampanannya dan pencapaian ilmunya. Oleh karenanya ketika bertemu dengan Bambang Sukadadi seorang pemuda tampan yang juga gemar menjalani laku tapa seperti dirinya, Bambang Precupanyukilan merasa terancam keberadaannya. Pertemuan sesama pemuda tampan berlimu tinggi tersebut berujung pada perkelahian. Mereka menggunakan cara kekerasan untuk saling memaksakan kehendak, bahwa dirinyalah yang lebih tampan dan lebih sakti. Namun cara itu tidak menyelesaikan masalah. Hingga muka dan badan mereka rusak, belum ada satu diantaranya yang benar-benar mampu membuat lawannya tidak berdaya.

Perkelahian terhenti ketika ada lurah cebol berkulit hitam dari Padepokan Karang Kadempel yang bernama Janggan Smarasanta yang menghampiri tempat itu. Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan sepakat meminta lurah Janggan Smarasanta menjadi hakim untuk memutuskan siapakah diantara keduanya yang paling tampan. Janggan Smarasanta mengatakan bahwa keduanya tidak ada yang tampan. Coba lihat wajah kalian pada telaga. Keduanya berlari ke telaga dan mendapati bahwa wajahnya telah rusak akibat perkelahian yang berkepanjangan.

Ketampanan yang dianugerahkan telah pergi tanpa membawa rasa syukur dari pemiliknya. Mereka berdua menyadari ketololannya, dan meyesali perbuatannya, untuk kemudian memasrahkan diri kepada Janggan Smarasanta yang adalah titisan Sang Hyang Ismaya. Dengan perasaan iba Lurah Karang Kadempel yang kemudian terkenal dengan nama Semar tersebut mengobati luka keduanya, baik luka batin maupun luka raga.

Dengan mantra tembang yang mengalun lembut keduanya tertidur pulas. Ketika Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan berbaring dalam ketenangan jiwa dan ketenangan raga, angan mereka menggembara pada suasana masa lalu yang pernah ditinggali ketika mereka masih kecil. Pada waktu itu mereka berdua bernama Kucir dan Kuncung, anak dari pasangan Gandarwa Bausasra dan Nyi Luntrung yang berkuasa di wilayah gunung Nilandusa. Dikarenakan Gandarwa Bausasra mempunyai istri muda dan berpisah dengan Nyi Luntrung, Kucir dan Kuncing disia-siakan oleh ibu tirinya. Mereka tidak kerasan di rumah dan melarikan diri ke padepokan Karang Kadempel, dan kemudian diangkat anak oleh Lurah Janggan Semarasanta.

Selesai menyusuri masa lalunya dari wilayah Gunung Nilandusa, angan Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan meloncat pada masa lalu yang lain, saat mereka menjadi anak raja Jin yang bernama Gandarwa Raja Bali, dengan nama Pecruk dan Penyukilan. Walaupun anak raja Jin keduanya berwajah tampan. Namun ketampanannya tidak digunakan sebagai mana mestinya. Kedua kakak beradik itu senang menakut-nakuti dengan mencegat orang untuk disakiti dan dirampas barang bawaannya.

Pada suatu saat ketika sedang melakukan aksi pencegatan, Pecruk dan Penyukilan berhadapan dengan Semar yang baru saja turun dari Kahyangan, maka diganggulah Semar oleh keduanya. Tetapi Semar melawan bahkan Pecruk dan Penyukilan diinjak-injak hingga tubuhnya rusak.

Akhirnya Pecruk dan Penyukilan mohon ampun dan mengaku kalah. Oleh Semar, kedua anak itu diampuni asal bersedia menemani menjadi pamomong satria. Pecruk dan Penyukilan bersedia menuruti kehendak Semar. Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Penyukilan yang lebih dulu rusak tubuhnya, dianggap sebagai saudara sulung dan diberi nama Gareng. Kemudian Pecruk diangkat menjadi anak nomor dua dengan nama Petruk.

Setelah mengingat bahwa dirinya pernah menjadi ‘begal’ Bambang Precupanyukilan masih menyisakan angannya, bahwa ia pernah menjadi anak raja Gandarwa yang bernama Prabu Suwala dari negara Pecuk Pacukilan, namun ia tidak ingat lagi peristiwa peritiwa penting lainnya yang terjadi dimasa lalu.

Memang, dengan mantra kidung yang ditembangkan, Semar sengaja ingin menghapus masa lalu nan getir yang pernah dialami oleh Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan, terlebih ketika mereka kehilangan ketampanannya. Agar untuk selanjutnya mereka dapat menjalani hidup dengan penuh semangat dan sukacita

Setelah mantra kidung selesai, Bambang Sukadadi dan Bambang Pecrupanyukilan tersadar dari tidurnya. Masa lalu yang pernah melintas dalam hidupnya hanyalah sebuah mimpi yang akan segera dilupakan. Ibarat seorang bayi yang lahir, mereka tidak ingat lagi masa lalunya. Yang mereka tahu bahwa mereka berdua adalah anak Semar yang diberi nama Gareng dan Petruk.

Nama lain dari Petruk adalah: Kantong Bolong, Pentung Pinanggul, Doblajaya, Loncung Boing, Dawala, Udawala.

Dengan pasangan Dewi Ambarwati Petruk mempunyai seorang anak laki-laki bernama Lengkungkusuma. Dalam riwayat hidupnya, Petruk pernah menjadi raja di negara Ngrancang Kencana dengan gelar Prabu Welgeduwelbeh.

herjaka HS