KABAR ANYAR

Danang Bramasti, Pastor yang ingin 'Lepas Bebas'

Danang Bramasti, Pastor yang ingin 'Lepas Bebas'

Rasanya, kita sudah mengenal pastur Jesuit yang bergerak dibidang jurnalistik dan kebudayaan, seperti Sindhunana SJ, Muji Sutrisno SJ dan Budi Subanar SJ, dan seorang pastor Jesuit, yang masih muda, lahir 3 Maret 1968, menggeluti seni lukis. Tahun 2010 lalu, karya lukisnya pernah dipamerkan di Tembi Rumah Budaya, dan kini dia kembali pameran tunggal di Student Hall Universitas Sanata Dharma, Mrican Yogyakarta, 10-18 Agustus 2012 dengan mengambil tema ‘Perjalanan Menuju Lepas Bebas’. Rasanya, melalui kesenian, Danang Bramasti ingin memiliki ‘kebebasan berpikir’ setidaknya tidak berkaitan dengan kegiatan parokial.

Tapi rupanya, Danang tidak bisa ‘membebaskan diri’ setidaknya dari karya-karya yang dipamerkan, Danang sepenuhnya tidak melepaskan ‘jubahnya’. Ia masih sebagai pastor, yang sedang kotbah. Karya lukisnya yang menggunakan pastel di atas kertas, masih menjumpai nuansa kotbah, setidaknya narasi injili, seperti misalnya pada lukisan yang berjudul, ‘Salam Damai’, ‘Aku Dibangkitkan’, ‘Getsmani’, “Perjumpaan’ dan lainnya.

Namun disisi yang lain, Danang berusaha mencoba ‘keluar’, yang dalam hal ini bisa dilihat dari karya lukisnya yang berjudul ‘Anggrek Ungu’, ‘Gojak Gajek’ dan lainnya. Dari dua wilayah yang berbeda, tampaknya Danag sedang melakukan pergulatan. Ia terus melakukan dialog di dua wilayah: gerejani dan awam.

Dari lukisan yang berjudul ‘Gojak Gajek’ yang visualnya berupa dua pasang sepatu, agaknya kita bisa ‘membaca’ karya itu sebagi representasi keraguan dari Danang, untuk ‘membebaskan’ diri dari lingkungan yang membatasinya, dan lingkungan itu adalah jenis lingkungan yang berbeda dari lingkungan kesenian.

Danang Bramasti, Pastor yang ingin 'Lepas Bebas'

Tentu, Danang Bramasti tidak harus keluar sebagai pastor. Dia tetap pastor, yang sehari-harinnya bertugas di Pasturan, dalam konteks ini Pasturan Kotabaru, tetapi ketika ia melukis, atau sedang berproses sebagai seniman, ia tidak perlu membayangkan umatnya yang sedang mengikuti misa. Tetapi, Danang sedang menjalankan proses kreatifnya sebagai seniman, dengan demikian kaidah-kaidah sebagai seniman tidak perlu berbenturan dengan kaidah-kaidah dia sebagai pastur. Proses kreatif seniman berbeda dengan proses kreatif sebagai pastur. Kalau keduanya ‘disatukan’ dan menghasilkan karya seni, yang akan lebih dominan casting sebagai pastur.

Atau juga, Danang sedang menempatkan panggung seni lukis seperti halnya mimbar Gereja. Sehingga, sesungguhnya, yang dia lakukan dengan melukis sebenarnya sedang meluaskan wilayah penggembalaan Dalam konteks ini, kita bisa dengarkan apa yang dikatakan seorang antropolog dari FIB UGM yang menulis pengantar di katalog, Dr. Lono Simatupang nama antropolog itu:

“Pemberian bobot penekanan berlebih pada proses melukisnya daripada produk lukisannya merupakan aspek mediasi lain yang perlu dilihat dalam kaitannya dengan aktivitas pastoral (penggembalaan). Dalam perspektif ini, pendampingan kegiatan melukis dapat menjadi salah satu alternatif laku penggembalaan. Berbagai aktivitas mental, spiritual, kebutuhan yang dialami seorang pelukis ketika berproses kreatif dapat ditularkan kepada orang lain – bukan melalui kata-kata atau tulisan, melainkan lewat aktivitas yang lebih melibatkan segenap unsur tubuh. Media alternatif ini perlu dipertimbangkan secara serius sebagai penyeimbang bagi kehidupan modern yang cenderung terlalu logocentric dan lebih bersandar pada olah pikir daripada olah rasa”.

Danang Bramasti, Pastor yang ingin 'Lepas Bebas'

Dari karya lukisnya, setidaknya yang dipamerkan ini, Danang Bramasti, lebih berkutat pada nilai, atau pesan yang disampaikan. Menyangkut teknis, agaknya, tidak menjadi pertimbangan utama. Meski dia tahu, visual seringkali menitik beratkan pada estetika dan bentuk. Kalau keduanya, dalam hal ini pesan dan estetika/bentuk menyatu, orang bisa memiliki perasaan lain.

Melalui seni lukis, Danang Bramasti seperti sedang berupaya untuk ‘lepas bebas’

Ons Untoro