KABAR ANYAR
Minggu
malam, 29 Januari 2012 sebuah kelompok yang menamakan diri Bol Brutu (Gerombolan
Pemburu Batu) mendiskusikan dan meluncurkan buku yang diberi judul How Brutu Are
You ?: Bol Brutu dan Situs-situs Candi Hindu-Buddha.
Buku itu sendiri terbit atas inisatif Brutuis (demikian untuk menyebut anggota
Bol Brutu) yang disokong oleh Sangkring Art Space, Nitiprayan, Yogyakarta.
Diskusi dan peluncuran buku tersebut dilangsungkan di Sangkring Art Space dengan
menghadirkan pembicara Ons Untoro dan Mahatmanto. Ons adalah salah seorang
pekerja di Tembi Rumah Budaya. Sementara Mahatmanto adalah seorang arsitek,
dosen Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.
Peluncuran bulu itu juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Landung Simatupang dan Brutuis yang lain. Kecuali itu ada pula pemilihan Brutuis terlajang dalam acara itu. Peluncuran buku itu sendiri memang dikemas dalam dialog yang cair dan santai dengan cara lesehan pula.
Buku yang diluncurkan tersebut memuat daftar ratusan situs candi Buddha dan Hindu. Hanya saja daftar tersebut tidak menyertakan alamat detailnya. Pun tidak mendeskripsikan situs-situs yang dikuinjunginya. Buku tersebut lebih menekankan pada opini, kesan, tesis, atau gagasan (bahkan mungkin juga imajinasi dan fantasi plus mimpi) para Brutuis sehubungan dengan kegiatan mereka yang populer disebut sebagai ”blusukan”. Ada sekian banyak foto situs hasil bidikan para Brutuis. Utamanya justru situs-situs marginal yang notabene selema ini nyaris tidak disentuh para turis dan mungkin juga tidak ”kemedol” (menjual), demikian menurut teori kapitalis.
Meskipun demikian, kesan at
au
gagasan yang dituliskan dalam buku ini cukup menarik. Di sana dapat dapat
ditemukan bagaimana orang-orang yang berangkat dari berbagai macam latar
belakang bisa jalan bersama, bertualang bersama, ngobrol (serius maupun
celelekan) tentang situs atau masa lalu dengan pendapatnya sendiri-sendiri:
bebas-lepas. Motivasi dari kaum Brutuis sendiri bisa sangat beragam ketika
menuju objek yang sama. Ada yang serius mau belajar sejarah dan arkeologi atau
kebudayaan. Ada yang iseng. Ada yang sekedar mengisi waktu dengan ”berpiknik”.
Ada yang sangat menikmati petualangannya, dan sebagainya.
Apa yang dilakukan Brutuis dan
yang kemudian ”direkamnya” dalam buku tersebut sesungguhnya telah cukup
menggugah orang untuk sadar atau setengah sadar bahwa bangsa kita memiliki
kekayaan peninggalan budaya yang beragam, unik, indah, bahkan mungkin juga
misterius. Ada begitu banyak peninggalan yang belum tersentuh, terawat, atau
justru mendekati keruntuhan serta kemusnahannya. Sangat banyak peninggalan
sejarah masa lalu yang hingga kini ”bisu” dan meninggalkan tanda tanya serta
gagapan dugaan atau hipotesis yang gagap. Pameran foto hasil
bidikan
Brutuis yang mendahului peluncuran bukunya di tempat yang sama menegaskan akan
kekayaan dan keunikan peninggalan masa lalu tersebut.
Ons Untoro selaku pembicara pertama dalam acara bedah buku tersebut lebih banyak men-sharing-kan pengalaman pribadinya tentang dunia blusukan yang juga pernah dialaminya. Bagi Ons, blusukan ke berbagai situs dapat dipandang sebagai upaya untuk mengenali kembali simbol-simbol budaya masa lalu serta menafsirkan ulang makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu apa yang dilakukan Bolbrutu bagi Ons lebih memberikan pengalaman tentang keliling dunia petilasan.
Mahatmanto lebih membicarakan
Bolbrutu sebagai sebuah kelompok yang sulit diidentikasi secara ”resmi” dan kaku.
Pendeknya, Bolbrutu tidak bisa diidentifikasi sebagai kelompok seperti apa.
Kunci untuk mengenali Bolbrutu adalah dengan melihat apa yang mereka buat.
Mahatmanto juga menyatakan bahwa apa yang dilakukan Bolbrutu adalah
mendokumentasikan dan mewartakan tentang apa yang dikunjungi
atau
dibidiknya. Selain itu, bisa dikatakan pula bahwa Bolbutuis atau sering juga
disebut Brutuis saja merupakan orang-orang yang memiliki kerinduan/kepedulian
akan masa lalu.
Buku yang diluncurkan Brutuis dan foto-foto yang dipamerkannya di Sangkring Art Space mungkin merupakan semacam langkah awal atau jejak ”petilasan” pertama dari Brutuis. Ke depan pasti mereka akan melakukan perekaman peninggalan masa lalu itu dan kemudian akan meninggalkan petilasan dari apa yang mereka lakukan itu. Entah itu berupa foto dokumentasi, komentar di jejaring sosial (facebook, dan lain-lain), buku, dan sebagainya. Orang boleh bilang masa lalu tidak penting, sejarah tidak berguna, dan sebagainya. Tetapi harus diingat bahwa tanpa masa lalu tidak akan ada masa kini dan masa yang akan datang. Manusia tidak tiba-tiba ada begitu saja dengan perangkat kebudayaannya. Manusia tidak lahir dari sebuah kekosongan.
a.sartono