KABAR ANYAR
Suasana
lingkungan Tembi tiga hari lalu, Rabu hingga Jumat (25—27 Januari) sejak pagi
hingga siang hari, tampak lebih hidup dibandingkan hari-hari biasanya. Di
Pendopo Yudanegaran, terdengar alunan musik karawitan yang lumayan merdu. Di
sampingnya, tidak kalah seru pula, segerombolan anak mengelilingi meja sedang
asyik belajar memasak. Terlihat mereka sedang diperkenalkan dengan bumbu-bumbu
masak, seperti kunir, jahe, kencur, kunci, bawang merah, bawang putih, merica,
ketumbar, dan lainnya.
Sementara di dalam Museum,
puluhan anak tertawa bercanda sambil belajar membatik dan membuat topeng. Di
tempat latihan tari, diiringi musik tari, puluhan siswa laki-laki tanggung ikut
latihan tari dan m
enirukan
gerakan dari instruktur tari yang cantik jelita. Tidak jauh dari tempat latihan
tari, di halaman belakang dekat ampiteater, belasan anak dengan serius melakukan
kegiatan lain, yakni melukis tokoh wayang. Juga, sayup-sayup di ruang belajar,
terdengar enam siswa yang sedang melantunkan tembang-tembang macapat khas Jawa.
Itulah kegiatan luar yang
sedang dilakukan oleh SMA De Britto Yogyakarta dalam pembelajarannya di ruang
kelas. Kali ini, pembelajaran di luar ruang kelas untuk mengenal lebih dekat
budaya Jawa dan dipusatkan di Tembi Rumah Budaya. Di tempat ini, mereka bisa
banyak melakukan kegiatan budaya Jawa dan mempraktikkannya, seperti bermain
karawitan,
belajar memasak masakan khas Jawa, menatah topeng, membatik, nembang macapat,
melukis wayang, dan menari.
Kegiatan luar seperti ini rutin
dilakukan setiap tahun oleh SMA De Britto yang muridnya semua laki-laki. Untuk
kelas X tahun ini, anak-anak ingin didekatkan dengan budaya Jawa. Kelas XI dan
XII juga melakukan kegiatan luar dengan tema yang lain pula, seperti mengenal
industri gerabah, mengenal pasar tradisional, dan lain sebagainya. Demikian
antara lain penjelasan Pak Juli, nama sapaan salah satu guru Kimia SMA De Britto
dalam obro
lannya
dengan kru Tembi. Tujuannya selain pembelajaran, agar anak peduli terhadap
budaya dan kegiatan sosial ekonomi lokal.
Awal kegiatan di Tembi diisi
dengan penjelasan sejarah singkat keberadaan Tembi oleh Pak Basmara Pradipta,
Kepala Rumah Tembi. Bahkan ia juga menyampaikan bahwa kegiatan siswa De Britto
ke Tembi ini seolah-olah belajar ke rumah sendiri. Pasalnya, pemilik Tembi ini
juga merupakan alumnus SMA De Britto. Demikian pula empat pengelola Tembi
lainnya juga alumnus De Britto. Diharapkan mereka tidak segan-segan belajar
budaya di Tembi ini, karena selain seakan-akan kembali ke rumah s
endiri,
mereka akan diampu oleh pakar-pakar budaya yang ahli di bidangnya.
Setiap kegiatan budaya, seperti karawitan dan lainnya diikuti oleh sekelompok siswa yang tak lebih dari 15 orang. Ada 7 kegiatan budaya. Total peserta sekitar 98 orang. Setiap kelompok pembelajaran budaya belajar selama 3 hari dengan topik yang sama. Diawali pada hari Rabu dan dilanjutkan pada hari kedua dan ketiga. Tampak dari wajah-wajah mereka yang sangat bisa menikmati suasana pembelajaran di Tembi ini.
Dito, salah satu siswa yang
belajar karawitan mengatakan, “Wah, aku sangat senang bisa belajar karawitan,
ternyata asyik ju
ga.”
Demikian akunya saat ditanya oleh Tembi. Demikian pula, Pak Yuli, juga sangat
heran dan kaget, ternyata anak-anak bisa bermain gamelan dengan cepat dan bagus.
Ia tidak menyangka sama sekali. Sebab anak-anak tidak terbiasa dengan karawitan
tradisional. Selama tiga hari, kelompok karawitan memainkan 6 gendhing, yakni
Manyar Sewu, Sluku-Sluku Bathok, Gugur Gunung, Pariwisata, Jaranan, dan Udan Mas.
Dari pengalaman ini, anak-anak yang ikut karawitan akan dilatih dengan serius,
dan akan dicoba untuk ditampilkan dalam dies sekolah di bulan Agustus mendatang.
Begitu pula dengan anak-anak
yang belajar budaya lainnya, seperti membatik misa
lnya.
Mereka mulai dilatih untuk mengenal kain dan alat-alat membatik, kemudian
membuat pola, membatik dengan canting, dan memberi pewarna sampai jadi. Setelah
kering, hasil membatiknya ini bisa dibawa pulang. Hal sama juga dilakukan untuk
yang ikut kegiatan memasak. Setelah mengenal bumbu-bumbu dan bahan-bahan lainnya,
mereka berusaha mencoba mengolah dan memasaknya sendiri hingga jadi masakan siap
saji. Dalam tiga hari, mereka praktik memasak sayur gulai tahu tempe, sayur
brongkos, caranggesing, dan es cincau. Kemudian mereka bersantap bersama hasil
masakannya itu.
Memang sangat asyik belajar di luar ruang sekolah. Jelas hal ini menambah pengetahuan dan pengalaman siswa SMA De Britto. Mungkin sekolah lain bisa meniru kegiatan positif sekolah ini. Semoga saja.
Suwandi
Foto: Sartono