KABAR ANYAR
Seringkali
kita mendengar cerita anak, atau juga kerap membaca cerita anak yang sudah
dibukukan, atau yang dimuat di majalah anak, atau koran harian yang setiap
minggunya ada rubrik untuk anak-anak. Pendek kata, cerita anak akrab dengan
kehidupan keseharian kita, apalagi kita kenal dongeng sebelum tidur untuk
anak-anak.
Cerita anak dan sastra anak adalah dua hal yang berbeda, apalagi yang kita kenal selama ini adalah istilah sastra. Hampir-hampir tidak mencul istilah sastra anak. Cerita anak memang kita kenal. Dalam satu diskusi dengan mengambil tema ‘Paradigma Sastra Anak di Dua Negara: Inggris dan Indonesia’ dengan menghadirkan narasumber Chrysogonus Siddha Malilang, alumnus Cambridge, Uninersity UK. Jum’at (20/1) di Roemah Sastra Anak ‘Ngewotan’.
Menurut Sidhha, perbedaan
sastra anak di Indonesia dan Inggris dapat dilacak kebagian yang paling mendasar,
arti dari kata sastra dan literature itu sendiri. Kata literature berasal dari
bahasa Yunani, gramatika literature, yang berarti semua yang tertulis. Sementara
kata sastra yang digunakan di Indonesia berasal d
ari
kata sas, yang berarti mengajar, memberi instruksi, mengarahkan, memberi
petunjuk. Kata tra, yang berada dibelakangnya berarti alat.
“Sastra cukup berbeda dari literature. Ada kemungkinan bahwa miskonsepsi ini datang dari kerancuan letterkunde (sastra) dan literatuur (referensi). Dengan demikian, sastra di Indonesia masih berfokus pada estetika dan pengajaran. Sebuah karya sastra harus memiliki nilai moral. Paradigma ini kemunngkinan besar juga bersumber pada lebih kuatnya tradisi sastra lisan yang ada pada budaya Indonesia, dimana sastra lisan lebih banyak digunakan untuk memberi nasihat. Bahkan, pada awal kehidupan Balai Pustaka, kebanyakan buku yang diterbitkan adalah sastra lisan yang dituliskan” kata Siddha Malilang.
Dalam diskusi ini, Siddha memperlihat beberapa judul buku sastra anak dari Inggris. Teks dari buku sastra anak ini hanya sedikit dan lebih banyak gambarnya, sehingga, untuk Indonesia sering dianggap sebagai ‘komik’ atau hanya cerita bergambar. Seringkali kita menemukan, ceirta anak didominasi teks, dan visualnya hanya sebagai pelengkap, bahkan visualnya mengikuti alur cerita.
Siddha melihat. Paradigma
Indonesia masih belum mau melepaskan anak-anak dari dunia orang dewasa secara
tidak langsung. Dengan menganggap bahwa semua
orang dewasa dapat memahami anak-anak dengan menggunakan residu memori mereka
ketika masih anak-anak, maka yang terjadi adalah pemberian nilai-nilai orang
dewasa kepada anak-anak melalui medium sastra anak tersebut.
“Pemberian nilai-nilai orang dewasa akan menyebabkan sebuah ‘penjajahan’ atau kolonisasi atas anak. Dengan demikian sastra anak akan berubah dari sastra tempat berekspresi anak-anak menjadi sastra dengan nilai orang dewasa yang disalurkan dalam bentuk anak-anak” ujar Siddha Malilang.
Dalam perspektif Siddha, pemberian ruangan terhadap anak-anak dalam sastra mereka sendiri di dunia barat dapat dilakukan dengan bebas tanpa adanya intervensi oleh orang tua di dalam karya itu sendiri.
“Di awal cerita, selalu digambarkan si anak pergi dari keluarga atau ditinggal mati oleh orang tuanya. Karena tidak adanya sosok orang tua sebagai pemegang nilai nilai dari orang dewasa itulah, maka anak didalam cerita merasa bebas mengekspresikan dirinya sendiri berdasarkan nilai-nilainya, bukan nilai-nilai orang dewasa yang diharapkan dimilikinya. Walaupun si anak akan kembali ke dunia orang dewasa, tetapi setidaknya di tengah-tengah cerita, mereka memiliki ruangan sebagai anak-anak tanpa orang dewasa” tutu Siddha.
Ons Untoro