|
Bothekan
DHALANG ORA KURANG LAKON
Peribahasa
Jawa di atas secara harfiah berarti dalang tidak ke-(kurang)-an
lakon. Lakon adalah unsur-unsur pernaskahan atau bahan baku dari
cerita (skenario) tentang apa yang akan dipentaskannya dalam
pakeliran. Dalam setiap tanggapan umumnya konsumen atau penanggap
meminta lakon tertentu kepada dalang. Entah itu lakon Rama Tambak,
Duryudana Gugur, Rabine Abimanyu, dan sebagainya. Sekalipun demikian,
sering juga penanggap meminta lakon yang tidak atau kurang lazim
berlaku dalam dunia pewayangan. Mungkin saja penanggap meminta lakon
Gareng Dadi Ratu, Semar Mantu, atau lakon yang memang sama sekali
tidak pernah ada di dalam dunia pewayangan. Dalam kondisi seperti
ini ada semacam pantangan bagi dalang untuk menolak permintaan
penanggap. Sejauh mungkin dalang akan memenuhi permintaan penanggap.
Ada semacam anggapan bahwa dalang yang tidak bisa mementaskan lakon
seperti yang diminta penanggap adalah dalang yang belum mumpuni,
dalang tidak cerdas, dalang tidak kreatif, dan seterusnya.
Untuk itulah dalang dituntut
untuk selalu bisa menciptakan lakon. Sekalipun permintaan tentang
lakon itu kadang-kadang tidak lazim, aneh, dan bahkan janggal,
dalang sebagai dalang tetap harus bisa mementaskannya.
Pepatah atau peribahasa di
atas sesungguhnya ditujukan untuk memberikan semangat kepada siapa
pun yang tengah mendapatkan tanggung jawab atau pekerjaan yang berat
atau dipandang sulit sekalipun. Artinya, sesulit apa pun tanggung
jawab atau pekerjaan yang mesti diemban oleh seseorang, seseorang
tersebut tidak boleh putus asa. Seseorang tersebut dituntut untuk
mencari cara, dukungan, kreativitas, gagasan, untuk menyelesaikannya.
Tidak kekurangan lakon sama artinya dengan tidak kekurangan cara
atau upaya untuk menyelesaikannya.
a.sartono |